Sabtu, 24 November 2012

“Ini Bagus”, kata Pigmalion



Judul                    : Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif lain
Penulis                 : Risang Sutawijaya
Penerbit               : Mahadhika Publishing
Kota terbit           : Yogyakarta 
Tahun terbit          : 2009
Tebal                    : 112 halaman
Ukuran                 : 120 X 190 mm

Risang Sutawijaya merupakan inspirator yang menuangkan inspirasi dan motivasi dalam buku yang bergenre fiksi dan berjudul ” Pigmalion dan Kisah-kisah Inspiratif lain”. Buku ini menceritakan tentang kesuksesan dan kebahagiaan yang digambarkan melalui kisah-kisah fiktif sehingga buku ini terasa unik dan baik untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap orang.
            Di dalam buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang sikap dan cara berpikir positif yang terdiri dari tujuh subjudul. Bagian kedua mengenai ulet dan berani yang terdiri dari 12 subjudul. Bagian terakhir tentang menjadi bijak, meski sesaat yang terdiri dari sepuluh subjudul.
            Dalam buku ini, pengarang menceritakan kehidupan seseorang bernama Pigmalion yang merupakan seorang pemuda pembuat patung. Ia merupakan orang Yunani masa lalu sahabat masa kecil Archimedes. Karya ukiran dan pahatan tangannya sungguh bagus. Akan tetapi, bukan kecakapannya itu yang menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pigmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif dalam segala hal baik buruk maupun baik karena ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.
Berawal dari satu kisah di sebuah kerajaan.
            Alkisah, Pigmalion memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Sang Raja. Ia terkenal sebagai penasehat yang sangat bijaksana. Anehnya, Pigmalion ini punya kebiasaan berkomentar,”Ini bagus!” atas semua situasi dalam hidupnya, positif maupun negatif.
            Suatu hari Sang Raja dan Pigmalion pergi berburu. Pigmalion mempersiapkan dan mengisikan peluru untuk senapan Sang Raja. Kelihatannya Pigmalion melakukan kesalahan dalam mempersiapkan senjata tersebut karena setelah raja menerima senapan itu dari temannya, senapan itu meletus dan mengenai jempolnya.
            Seperti biasa Pigmalion berkomentar, “Ini bagus!”, yang oleh raja dijawab, “Tidak, ini tidak bagus!”, dan raja tersebut menjebloskan Pigmalion ke dalam penjara.
            Pengarang mulai menggambarkan watak manusia yang berdasarkan realisasi dalam kehidupan nyata. Watak manusia sangatlah beragam, tetapi di dalam kisah ini, pengarang menggambarkan watak manusia yang labil dalam memutuskan suatu keputusan tanpa memikirkan kembali kemaslahatan dan kemadharatannya. Selain itu, kisah ini menggambarkan watak manusia yang selalu berprasangka baik dalam segala hal.
            Kurang lebih setahun kemudian, Sang Raja pergi berburu ke daerah yang berbahaya. Ia ditangkap oleh sekelompok orang kanibal, kemudian dibawa ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya dan menumpik kayu bakar, bersiap untuk membakarnya. Ketika mereka mendekat untuk menyalakan kayu tersebut, mereka melihat bahwa Sang Raja tidak mempunyai jempol. Dikarenakan percaya pada takhayul, mereka tidak pernah makan orang yang tidak utuh. Jadi, mereka membebaskan raja itu.
            Dalam perjalanan pulang, raja tersebut ingat akan kejadian yang menyebabkan dia kehilangan jempolnya dan merasa menyesal atas perlakuannya terhadap Pigmalion teman baiknya. Raja langsung pergi ke penjara untuk berbicara dengan Pigmalion. “Kamu benar”, katanya, “baguslah bahwa aku kehilangan jempolku”. Kemudian, ia menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada temannya itu. “Saya menyesal telah menjebloskan kamu ke penjara begitu lama. Saya telah berlaku jahat kepadamu”.
            “Tidak”, kata Pigmalion, “ini bagus!”. “Apa maksudmu, ‘ini bagus’? bagaimana bisa bagus, aku telah memenjarakanmu selama satu tahun”. Pigmalion menjawab, “kalau Anda tidak memenjarakan aku, aku tadi pasti bersamamu”.
            Kehilangan jempol ataupun kehilangan kebebasan karena dipenjara bukanlah hal yang menyenangkan. Namun, karena dua peristiwa itulah, Sang Raja dan Pigmalion tidak menemui ajalnya dalam peristiwa konyol itu.
            Dalam kisah tersebut pengarang menggambarkan kehidupan kita, ada peristiwa yang menyebabkan kita kehilangan materi, mata pencaharian, bahkan orang yang kita sayangi. Tentu saja itu membuat kita sedih, kesal, marah, bahkan menggugat Tuhan karenanya. Beberapa diantara kita penolakan kita atas kejadian yang tidak menyenangkan ini. Ada yang menolak begitu keras, sehingga menjauh dari Tuhan.
            Namun, jika kita dapat mengikuti sikap Pigmalion di atas, yang secara positif menerima setiap peristiwa baik maupun buruk dalam hidup kita, sehingga suatu hari nanti kita akan menyadari adanya berkat-berkat yang tersamar dalam setiap peristiwa yang kita alami.
            Sikap positif itu pada dasarnya adalah perwujudan nyata dari suasana jiwa yang lebih mengutamakan kegiatan kreatif daripada kegiatan yang menjemukan, kegembiraan daripada kesedihan, harapan dari keputusasaan. Sikap positif adalah keadaan jiwa yang hanya dapat dipertahankan melalui usaha-usaha secara sadar. Bila sesuatu terjadi sehingga membelokan fokus mental seseorang ke arah yang negatif, mereka yang positif mengetahui bahwa guna memulihkan dirinya, penyesuaian harus dilakukan.
            Selain kisah-kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya yang memiliki nilai-nilai tersendiri. Buku ini sangat menarik, selain bahasanya yang mudah dipahami, buku ini juga dilengkapi gambar-gambar sesuai dengan kisah yang diceritakan sehingga tidak membosankan saat membacanya. Kisah-kisah yang ada di dalamnya merupakan penggambaran realitas kehidupan ini yang disusun secara rapi sehingga terasa sangatlah unik. Sulit untuk menemukan kekurangan pada buku ini, secara keseluruhan buku ini tersusun dengan baik dan menggunakan intonasi dan bahasa yang sesuai. Sayangnya, dalam bahasanya tidak terdapat majas sehingga cerita kisah tersebut datar. Cover pada buku ini juga tidak sesuai dengan apa yang diceritakan di dalamnya. Kemudian juga saring terjadi kesalahan pada penulisan nomor.
            Buku ini merupakan sumber motivasi dan inspirasi yang terus menerus yang penting untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap orang sehingga energi positif pada buku ini dapat menghantarkan Anda pada kesuksesan dan kebahagiaan di masa depan. Energi positif tertuang dalam ucapan syukur dan senyuman serta menghargai waktu karena tidak sedetikpun dapat kembali. Berpikir, menduga, dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang akan memancarkan energi positif dalam kehidupan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar